Alas Mentaok atau Hutan Mentaok dulunya hanyalah hutan belantara yang terbentang dari Timur Laut sampai Tenggara Yogyakarta.
Dahulunya Alas Mentaok hanya diisi oleh beberapa orang yang masih sengat ugeni agama Hindu. Orang-orang yang menghuni Alas Mentaok berkumpul disalah satu tempat yang saat ini kita kenal dengan Kota Gede.
Sebenarnya Alas Mentaok adalah hadiah dari Sultan Hadiwijaya dari Kerajaan Pajang, untuk Ki Ageng Pamanahan dan Danang Sutawijaya karena berhasil menumpas area Penangsang dari Cipang Panolan.
Hadiwijaya memberiksn Alas Mentaok bukan cuma-cuma. Ia berniat memperluas kerajaannya, namun ragu karena ada ramalan yang mengatakan akan ada kerajaan baru yang tumbuh dengan cepat dan pesat.
Sebelum pembabatan Alas berjalan Ki Ageng Pemanahan meninggal dunia dan pembabatan dilanjutkan oleh Danang Sutawijaya. Namun, saat melakukan pembabata, Danang Sutawihaya mengalami hal aneh.
Semua pohon yang sudah ia tyebang tumbuh kembali. Danang Sutawijaya pun bertemu dengan penjaga Alas tersebutdan perkelahian tak dapat dihindari. Danang Sutawijaya pun kalah karena senjata yang dimiliki oleh sang penjaga Alas sangat sakti.
Akhirnya Danang Sutawijaya melakukan topo diberbagai tempat. Saat iya sedang melakukan topo disebuah danau ia didatangi oleh Kanjeng Ibu dan ditawari bantuan dengan syarat perkawinan.
Danang Sutawijaya pun sepakat dan ia berhasil menang dalam melawan penjaga alas dan sang penjaga alas pun berjanji akan mejaga alas asal tidak dibunuh dan ia pun diberi tempat khusus oleh Danang Sutawijaya disebuah pohon besar yang kini ada di Keraton Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar